HOTEL KRYAD BANDA ACEH, 28-29 SEPTEMBER 2019

Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (pamki) Cabang Aceh bekerjasama dengan Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) RSUDZA melaksanakan Workshop “Pengendalian Resistensi Antimikroba” pada hari Sabtu-Ahad, tanggal 28-29 September 2019 bertempat di  Hotel Kryad Muraya Banda Aceh. Workshop dihadiri oleh peserta, panitia, narasumber, pimpinan rumah sakit dan Dekan FK Unsyiah ini mengambil tema “Best Course on Antimicrobial Resistance Control Program: Knowledge, Skill, Effort and Passion”.

Dr. dr. Zinatul Hayati, M.Kes., Sp.MK (K) sebagai Ketua Panitia mengatakan bahwa ada 8 direktur RS yang hadir sebagai peserta dalam workshop ini yaitu Direktur RSUDZA, Direktur RS Ibnu Sina Aceh Besar, Direktur RS Graha Bunda Aceh Timur, Direktur RS Cut Nyak Dhien Meulaboh Aceh Barat, Direktur RS Harapan Bunda Banda Aceh, Direktur RS Mufid Sigli dan Direktur RSUD Langsa Aceh Timur. Selain para direktur, hadir dalam workshop ini sebanyak 35 orang klinisi dari berbagai spesialisasi (20 diantaranya dari RSUDZA), 16 orang farmasis (2 diantaranya dari RSUDZA), 3 orang Spesialis Mikrobiologi Klinik, 2 orang Spesialis Patologi Klinik, 2 orang dari Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, selain itu hadir juga dari One Health, Fakultas Kedokteran Unsyiah,  Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah, Bidan dan umum masing-masing 1 orang peserta.

Tidak mau kalah dengan peserta lain dari Kab/Kota, Pimpinan RSUDZA pun sangat antusias dalam mengikuti workshop ini sesi demi sesi mulai dari pembukaan hingga penutupan. Hadir diantaranya adalah Direktur RSUDZA (Dr. dr. Azharuddin, Sp.OT, K-Spine, FICS), Wadir Pelayanan Medis (Dr. dr. Endang Mutiawati, Sp.S (K)) dan Kabid Pelayanan merangkap Ketua Komite Akreditasi RSUDZA (dr. Nanda Earlia, Sp.KK, FINSDV). Tampak juga hadir Dr. dr. Syahrul Sp.S (K) Direktur RSUDZA periode 2012-2015 dan Ketua Komite Medik RSUDZA (Dr. dr. Azwar, Sp.MK., Sp.THT-KL (K)).

Workshop ini sangat penting karena Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (antibiotic stewardship program) telah menjadi standar dalam akreditasi nasional (SNARS) maupun internasional (JCI). Oleh karena itu workshop ini menghadirkan 11 narasumber yang sudah sangat kompeten dan pakar dibidangnya. Narasumber tersebut yaitu Prof. Dr. Kuntaman, MS, dr., SpMK(K), beliau adalah Ketua PAMKI Pusat dan anggota KPRA Kemenkes, dr. Hari Paraton, Sp.OG(K) sebagai Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kemenkes, Mariyatul Qibtiyah, SSi, SpFRS, Apt (Anggota KPRA Pusat), Dr. Djoni Darmadjaja, SpB (Wakil Ketua Komite Akreditasi Rumah Sakit /KARS), Dr.Cahyarini, SpMK(K) (Ketua Komite PPI RS Persahabatan Jakarta), Dr. Dewi Anggraini, SpMK (K)  (RSUD Arifin Ahmad Pakan Baru Riau), dr. Raihan., Sp.A (K) Dr. T. Yaseer Arafat Sp.An (Kepala Instalasi Intensive Care RSUDZA), Ketua II KPRA RSUDZA Dr. dr. Zinatul Hayati, M.Kes., Sp.MK(K) (Ketua PAMKI Cabang Aceh dan Ketua I KPRA RSUDZA) dr. Syamsul Rizal, Sp. BP. RE (Ketua KPRA RSUDZA).

Permasalahan resistensi antibiotik saat ini menjadi isu global. Hal ini diakibatkan oleh karena semakin tingginya angka resitensi bakteri terhadap antibiotik. Banyak faktor yang mengakibatkan bakteri menjadi reisisten misalnya peresepan oleh dokter yang tidak bijak, masyarakat meminum antibiotik tanpa konsultasi dengan dokter, pasien tidak meminum obat sampai tuntas, penggunaan berlebihan pada peternakan, masih rendahnya pengendalian infeksi di rumah sakit dan klinik, farmasi menjual antibiotik secara bebas dan lain-lain. Tanpa tindakan yang dilakukan segera, dunia akan menghadapi “Post Antibibiotic Era”, suatu masa seperti saat antibiotika belum ditemukan sehingga infeksi umum dan ringan yang pada masa puluhan tahun sebelumnya dapat disembuhkan, namun suatu saat menjadi mematikan.

Berbagai cara perlu dilakukan untuk menanggulangi masalah resistensi antimikroba ini baik di tingkat perorangan maupun di tingkat institusi atau lembaga pemerintahan, dalam kerja sama antar-institusi maupun antar-negara. WHO telah berhasil merumuskan 67 rekomendasi bagi negara anggota untuk melaksanakan pengendalian resistensi antimikroba. Di Indonesia implementasi rekomendasi ini tampaknya belum terlaksana secara institusional, walaupun sudah diketahui bahwa penanggulangan masalah resistensi antimikroba di tingkat internasional hanya dapat dituntaskan melalui gerakan global yang dilaksanakaan secara serentak, terpadu, dan berkesinambungan dari semua negara. Diperlukan pemahaman dan keyakinan tentang adanya masalah resistensi antimikroba, yang kemudian dilanjutkan dengan gerakan nasional melalui program terpadu antara rumah sakit, profesi kesehatan, masyarakat, perusahaan farmasi, dan pemerintah daerah di bawah koordinasi pemerintah pusat melalui kementerian kesehatan.

Pelatihan ini diselenggarakan untuk memenuhi harapan para profesional kesehatan di rumah sakit dalam memberikan pelayanan kepada penderita penyakit infeksi dalam rangka pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit.

 

Rangkaian kegiatan:

  1. Peserta mengikuti Pretest secara online
  2. Pemberian materi oleh:
  • Hari Paraton Sp.OG (K)_(Ketua KPRA Kemenkes)
  • Kuntaman Sp.MK (K)_ (Ketua PAMKI Pusat)
  • Zinatul Hayati Sp.MK (K)_(Ketua PAMKI Cab Aceh)
  • Cahyarini Sp.MK (K)
  1. Diskusi panel
  2. Praktik evaluasi kualitas penggunaan antibiotik yang masing-masing meja dipandu 1 orang fasilitator
  3. Penutupan WS oleh Direktur RSUDZA
  4. Pemberian sertifikat